Sabtu, 31 Desember 2016

Kisah Inspiratif Islam Ashabul Kahfi

Menuju gua Ashabul Kahfi
Menuju gua Ashabul Kahfi


Di era gadget ini, arus teknologi benar-benar membawa kita pada satu

bencana. Kerusakan semakin merajalela, dimana-mana diberitakan kerusakan-

kerusakan yang dalangnya tiada lain adalah teknologi, mulai dari prostitusi

online, judi online, dan lain sebagainya. Dengan kecanggihannya, mana yang

benar dan mana yang salah tak lagi bisa dibedakan. Dan kita kaum santri,

seharusnya tidak terbawa arus tersebut. Kita harus bisa menggiringnya kejalan

yang benar. Lantas, bagaimana caranya?

Tentunya sudah tak asing lagi di kalangan kita, kisah heroik Ashabul kahfi

dalam menentang kedzoliman Raja mereka kala itu. Ancaman sang Raja tak

sedikitpun melunturkan keimanan mereka. Mungkin, kita dapat mengambil

hikmah dari kisah mereka.

Kala itu, fitnah besar melanda negeri Romawi, para penganut ajaran Nabii

Isa A.S. dan berpengang teguh pada kitab suci Injil. Oleh oleh sang Raja,

Diqyanus dipaksa untuk menyembah berhala. Tak ayal suluruh penjurupun rata

dengan kekufuran dan membelot dari ajaran -Nabi Isa A.S yang selama ini

mereka taati.

Baca Juga: Tips agar berpikir lebih dewasa

Namun ada sebuah kota yang kenal dengan sebutan Afsus atau dalam

bahasa arab Thorsus terdapat sekelompok pemuda yang masih berpegang

teguh dengan ajaran Nabi Isa A.S dengan tetap menngesakan Allah semata.

Ketika kabar ini terendus oleh Sang Raja mereka diperintahkan untuk

menghadap raja. Mereka pun memenuhi perintah tersebut. Di hadapan Raja

mereka menangis ketakutan. Beruntung, mereka tak jadi dibunuh, karena waktu

itu Raja harus pergi keluar kota.
Surat al-Kahfi
Surat al-Kahfi


Sepulang dari kerajaan, mereka langsung berunding dan sepakat untuk

melarikan diri dari ancaman sang Raja. Tujuan mereka adalah sebuah gua yang

terletak di kota Yanjalus. Sesampai di gua tersebut mereka terus melakukan

sholat, puasa, membaca tasbih dan tahmid. Sedangkan untuk keberlangsungan

hidup, salah satu diantara mereka ada yang bertugas berbelanja, dia bernama

Tamlikho. Setiap harinya, Tamlikho pergi ke kota untuk berbelanja bahan

makanan. Lama kelamaan keberadaan mereka tercium oleh pihak kerajaan.

Mereka panik, khawatir Raja akan kembali menyiksa mereka. Ditengah

kepanikan mereka, Allah menurunkan rahmatNya, mereka ditidurkan didalam

goa tersebut. Hingga ketika pihak kerajaan tiba di bukit Yanjalus, mereka

menemui pemuda-pemuda itu tidur nyenyak. Akhirnya, Raja memerintah untuk

menutup mulut goa, agar pemuda-pemuda itu mati kelaparan karena tak bisa

keluar dari goa tersebut.

Baca Juga: Ghirah Islamiyah dan bela al-Quran 212

Namun, dugaan sang Raja salah. Bukannya mati, mereka malah terus

bertahan hingga 309 tahun berikutnya. Keajaiban ini mengundang decak kagum

ummat setelahnya, dari cerita mereka para penginkar hari kebangkitan menjadi

takluk. Dan cerita mereka, diabadikan hingga kini dalam alquran. Mungkin, agar

bisa menjadi ibrah bagi generasi-generasi selanjutnya.

Dari cerita diatas, ada beberapa hikmah yang bisa kita ambil. Salah

satunya, ketangguhan para penghuni gua dalam mempertahankan

keimanannya walau dibawah ancaman kerajaan. Begitu juga kita, sudah

seharusnya kita tetap teguh dalam satu prinsip. Yaitu prinsip santri sebagaimana

yang didawuhkan oleh almaghfurlah K.H. Hasani Nawawi. Kita tak boleh

kehilangan arah, sehingga terbawa arus modernisasi. []


EmoticonEmoticon